Infeksi Nosokomial

Infeksi Nosokomial - Infeksi Nosokomial Bagi yang terjun dalam dunia medis serta juga keperawatan tentunya tidak akan asing dengan apa yang dimaksud dengan infeksi nosokomial. Apalagi berhubungan erat dengan Rumah Sakit nosokomial ini. Nah kali kali ini Blog Keperawatan akan mencoba share sedikit mengenai infeksi nosokomial rumah sakit.

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang belum ada ketika pasien masuk rumah sakit dan kemudian muncul ketika dalam masa perawatan inap di rumah sakit(umumnya 3x24 jam). Demikian kurang lebih pengertian infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial telah menyebar secara luas. Mereka juga merupakan kontributor untuk meningkatnya morbiditas dan kematian. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini.

Infeksi Nosokomial, Blog Keperawatan

Penyebaran utama penyebaran Infeksi nosokomial adalah :
  1. Endogenous, self-infection atau auto-infection. Agen penyebab terjadinya infeksi nosokomial berasal dari pasien itu sendiri dan muncul ketika sedang rawat inap di rumah sakit sebagai akibat dari menurunnya daya imunitas tubuh pasien. (contohnya luka operasi yang belum sembuh dipegang dengan tangan pasien yang tidak bersih)
  2. Cross contamination diikuti dengan cross infection. Penyebaran infeksi nosokomial melalui kontak dengan agen kausatif baru yang kemudian terjadi infeksi baru. Kontak ini bisa berasal dari petugas paramedis, pasien lain, dan lingkungan seperti air, udara, makanan, serta prosedur dan alat medik (ventilator, iv line, catheter)
Pengetahuan mengenai hal pencegahan infeksi nosokomial ini sangat penting bagi seluruh petugas kesehatan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya yang hal tersebut merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi infeksi. Kemampuan dalam hal mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan kesehatan dan juga pelayanan keperawatan yang bermutu.

Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah dengan cara meningkatkan kemampuan setiap petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa kita adalah Kewaspadaan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi.

Cara Pengendalian Pencegahan infeksi nosokomial pada strategi Universal Precautions adalah meliputi beberapa hal di bawah ini :
  1. Personal hygiene
  2. Cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan dan air mengalir
  3. Penggunaan baju pelindung, masker, sarung tangan, dan penutup kepala
  4. Sterilisasi, desinfeksi, antiseptik dan dekontaminasi
  5. Kewaspadaan Universal pada pengelolaan dan penggunaan alat tajam(injeksi, iv line)
  6. Pengelolaan limbah dan lingkungan
  7. Surveilance
  8. Penetapan standar dan prosedur kerja
Tindakan surveilance yang tersebut di atas yang masuk dalam hal pengendalian infeksi Nosokomial (INOS) mengambil peran sangat penting dalam strategi pencegahan infeksi nosokomial. Dengan pemantauan terus menerus oleh tim yang telah dibentuk oleh rumah sakit untuk menemukan kasus infeksi nosokomial. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar kualitas rumah sakit dan memantau prilaku para pekerja medis di rumah sakit.
Surveilance ini dilakukan dengan harapan dan juga tujuan :
  1. Menurunnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit
  2. Menurukan angka morbiditas dan mortalitas pasien
  3. Mengubah prilaku tenaga kesehatan
  4. Melindungi tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap sumber infeksi di rumah sakit
Ada beberapa jenis infeksi Nosokomial (INOS). Berikut adalah jenis macam infeksi nosokomial yang sering ditemukan di Rumah Sakit :
  1. Infeksi saluran kemih (paling sering). Infeksi ini paling sering disebabkan oleh pemasangan catheter. Biasanya terjadi apabila pemasangan yang tidak steril, fikasi yang kurang kuat, pemasangan melewati batas pengunggunaan( sebaiknya diganti 5-7 hari).
  2. Infeksi vaskuler. Paling banyak disebabkan oleh pemasangan infus. Sumber infeksi bisa berasal dari waktu dan cara pemasangan infus, jarum dan infus set, serta botol infus itu sendiri.
  3. Infeksi luka operasi. Resiko terjadinya infeksi luka operasi tergantung kepada jenis, macam operasi, keadaan umum penderita, ketrampilan dokter bedah, dan proses perawatan luka.
  4. Infeksi luka non operasi. Contohnya pada penanganan luka bakar dan dekubitus.
  5. Infeksi saluran pernapasan. Predisposisi terjadinya infeksi ini yaitu derajat keparahan penyakit pasien, rawat inap yang terlalu lama, usia rentan (terlalu muda atau tua) dan penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator).
Bagi kita tenaga kesehatan baik itu tenaga medis atau pun tenaga paramedis (perawat) infeksi nosokomial ini adalah musuh yang harus senantiasa di lawan dan jangan diberikan kesempatan untuk terjadi pada pasien-pasien yang tentunya mengharapkan kesembuhan bukan malahan "tambahan infeksi" selama masa pengobatan dan perawatan. Dan tentunya tiap Rumah sakit mempunyai protap tersendiri dalam hal menimalisasi terjadinya infeksi nosokomial ini. Dan semoga dalam memberikan pelayanan kesehatan angka kejadian infeksi nosokomial ini bisa ditekan serendah mungkin.

1 comment:

  1. merujuk ke paragraf 3 angka 2, berarti tempat-tempat seperti rumah sakit dan klinik memang tempat yang membahayakan untuk terjadinya infeksi ya Mas? antisipasinya gimana ya Mas, sementara misalnya, kita harus nungguin anggota keluarga yang sakit.

    ReplyDelete