Berbagi Beragam Info Umum Dan Kesehatan

Askep CHF Gagal Jantung Kongestif

Askep Gagal Jantung Kongestif.Gagal jantung kongestif adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan metabolisme jaringan dalam hal ini nutrisi dan juga oksigen pada keadaan tertentu, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.

Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung kongestif / CHF termasuk kerusakan sifat kontraktil dari jantung, yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. Demikian pengertian gagal jantung kongestif yang telah diposting sebelumnya ditinjau dari segi medis. Karena Blog Keperawatan ini juga berorientasi kepada asuhan keperawatan maka kali ini akan di share mengenai askep CHF gagal jantung kongestif dan semoga apa yang akan disharing tentang askep CHF gagal jantung kongestif ini akan memberikan manfaat.

Setelah memahami akan apa yang dimaksud dengan penyakit CHF / gagal jantung kongestif di atas maka langsung saja ke topik pembahasan yaitu mengenai askep gagal jantung kongestif CHF ini.

askep gagal jantung kongestif, askep CHF, Blog Keperawatan

Pengkajian yang dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan CHF / gagal jantung kongestif dimulai dengan :
  1. Aktifitas dan Istirahat. Yang dikaji dalam hal ini adalah keluhan pasien gagal jantung kongestif yang berupa adanya kelelahan / exhaustion dalam kesehariannya, mengalami insomnia, kurang istirahat, sakit / nyeri dada, dispnoe saat istirahat atau beraktifitas.
  2. Sirkulasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah riwayat hipertensi, bedah jantung, endokarditis, anemia, septik syok, penyakit jantung, disritmia, atrial fibrilasi, ascites, hepatomegali, sianosis, takikardia.
  3. Integritas Ego / Status mental. Yang dikaji dalam hal ini ansietas (cemas), kuatir dan takut, gelisah, marah, iritabel / peka, stress sehubungan dengan penyakitnya, sosial finansial.
  4. Eliminasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah penurunan volume urine, urine yang pekat, nocturia(kencing malam hari), diare dan konstipasi.
  5. Makanan dan Cairan. Yang dikaji dalam hal ini adalah kehilangan nafsu makan, nausea, vomiting, oedema di ekstremitas bawah, asites.
  6. Kebersihan Diri. Yang dikaji dalam hal ini adalah kelelahan selama aktivitas perawatan diri.
  7. Neurosensori. Yang dikaji dalam hal ini adalah kelemahan, pening, pingsan, lethargia, bingung, disorientasi, iritabel.
  8. Rasa Nyaman. Yang dikaji dalam hal ini adalah sakit dada ,kronik / akut angina pektoris, nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
  9. Pernapasan / Respirasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah dispnoe pada waktu aktifitas, takipnoe, riwayat penyakit paru kronis.
  10. Interaksi Sosial. Yang dikaji dalam hal ini adalah penurunan keikutsertaan dalam dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
Selanjutnya kita berlanjut dalam diagnosa keperawatan pada CHF / gagal jantung kongestif.
Diagnosa keperawatan pada askep CHF gagal jantung kongestif yang muncul diantaranya yaitu :
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial / perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, perubahan struktural, ditandai dengan :
  • Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : perubahan gambaran pola EKG, disritmia.
  • Perubahan tekanan darah (hipertensi/hipotensi).
  • Penurunan haluaran urine.
  • Kulit dingin kusam.
  • Bunyi jantung ekstra (S3 dan S4).
Kriteria Hasil :
  • Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung.
  • Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
  • Melaporkan penurunan episode angina(nyeri dada), dispnea.
Intervensi Keperawatan :
  • Auskultasi nadi apical, kaji frekuensi dan juga irama jantung.
  • Palpasi nadi perifer.
  • Pantau Tekanan Darah.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat dan juga pemberian oksigen yang menggunakan kanul nasal O2 atau masker.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemia pada miocard ditandai dengan kelelahan, kelemahan, adanya disritmia, perubahan tanda-tanda vital, dispnoe, berkeringat, pucat.
Kriteria Hasil : Pasien dapat menunjukkan berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan, dapat memenuhi perawatan diri, menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi Keperawatan :
  • Periksa dan ukur tanda-tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan obat-obatan yang berpengaruh pada tekanan darah dan heart rate seperti vasodilator,diuretic dan penyekat beta.
  • Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat adanya takikardi, disritmia, dispnea, berkeringat dan pucat.
  • Evaluasi dalam hal peningkatan intoleran aktivitas.
  • Kolaborasi dengan rehab medik.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung), meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium / air.
Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan volume cairan yang stabil dengan keseimbangan masukan dan juga pengeluaran, bunyi nafas bersih / jelas, tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada edema, menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau pengeluaran urine, catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi.
  • Pantau / hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam (balance cairan).
  • Pantau Tanda-tanda vital (tekanan darah)
  • Kaji bising usus. Catat keluhan adanya anoreksia, mual, distensi abdomen dan konstipasi.
  • Pertahakan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat sesuai indikasi.
4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus.
Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan, berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau bunyi nafas, catat adanya mengi, krekles.
  • Ajarkan / anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam.
  • Berikan perubahan posisi sesering mungkin.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat dan juga oksigen bola diperlukan.
Demikian sahabat mengenai askep CHF / gagal jantung kongestif dan semoga askep CHF ini bisa memberikan manfaat.



Sahabat membaca artikel mengenai Askep CHF Gagal Jantung Kongestif. Bila sahabat menganggap artikel Askep CHF Gagal Jantung Kongestif ini bermanfaat juga untuk sahabat lainnya silakan untuk men-SHARE ulang di Facebook atau Twitter di bawah ini. Terima Kasih

Artikel Dan :

Ditulis Di Dalam © Blog Keperawatan